Baru Saja RDP Soal Pelayanan, RSUD Prabumulih Alami Mati Listrik

 


PRABUMULIH,Vijaronline.com – Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar Komisi I DPRD Kota Prabumulih bersama manajemen RSUD Prabumulih terkait optimalisasi pelayanan kesehatan tampaknya belum sepenuhnya menjadi pelajaran. Pasalnya, tak lama setelah rapat tersebut, RSUD Prabumulih justru mengalami insiden mati listrik selama belasan jam.

RDP yang turut dihadiri Direktur RSUD Prabumulih, dr. Ade Nur Ikhlas, tersebut membahas berbagai persoalan pelayanan yang sebelumnya sempat viral di tengah masyarakat.

Dalam wawancara dengan awak media, Ketua Komisi I DPRD Kota Prabumulih Riza Ariansyah SH menjelaskan terdapat empat poin rekomendasi yang dihasilkan dari rapat yang digelar Kamis (12/2/2026).

Pertama, Komisi I DPRD merekomendasikan kepada RSUD Prabumulih untuk melakukan evaluasi terhadap pelayanan serta sumber daya manusia (SDM), khususnya di ruang Unit Gawat Darurat (UGD).

Kedua, DPRD meminta peningkatan kualitas dan pembaruan sistem manajemen RSUD melalui koordinasi yang lebih baik, pelatihan bagi tenaga kesehatan, penyegaran atau rolling pegawai berdasarkan penilaian pelayanan, serta pemberian sanksi tegas terhadap pelanggaran.

Ketiga, Komisi I juga menyoroti kebersihan fasilitas rumah sakit dengan merekomendasikan peningkatan kualitas kebersihan ruangan dan toilet di lingkungan RSUD.

Keempat, DPRD meminta perbaikan dan pembaruan sarana serta prasarana, terutama pendingin ruangan (AC) di setiap ruang rawat inap maupun ruang pelayanan pasien.

Riza menegaskan pihaknya akan terus memantau perkembangan pelayanan di RSUD setelah rapat tersebut.

“Dalam beberapa bulan ke depan akan terus kita pantau peningkatan pelayanan serta sarpras, termasuk alat kesehatan seperti kelengkapan baju operasi bagi pasien RSUD,” ujarnya.

Ia juga menyoroti persoalan baju operasi yang sempat viral beberapa waktu lalu dan menyarankan agar kelengkapan alat kesehatan tersebut kembali dianggarkan.

Sementara itu, Direktur RSUD Prabumulih dr. Ade Nur Ikhlas menyampaikan pihaknya telah melakukan sejumlah perbaikan baik pada sarana prasarana maupun pelayanan kepada masyarakat.

“Sudah kita lakukan perbaikan, termasuk soal kandang bebek juga sudah kita sterilkan. Kami juga sedang menghitung dan mencatat apa saja yang perlu diperbaiki,” ungkap dr. Ade.

Ia menegaskan komitmen pihak rumah sakit untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat Kota Prabumulih.

“Kami berkomitmen akan terus melakukan perbaikan dan peningkatan layanan kepada masyarakat serta memperbaiki apa yang patut diperbaiki,” katanya.

Namun di tengah komitmen tersebut, RSUD Prabumulih kembali menjadi sorotan setelah terjadi pemadaman listrik yang berlangsung belasan jam di lingkungan rumah sakit.

Manajemen RSUD memastikan bahwa vaksin dan obat-obatan tetap aman karena telah dipindahkan ke tempat penyimpanan alternatif dengan pemantauan suhu secara rutin setiap jam.

“Tidak ada vaksin atau obat yang rusak,” tegas dr. Ade.
Meski demikian, insiden ini memicu kekhawatiran publik. Masyarakat pun meminta klarifikasi lebih terbuka dari pihak manajemen rumah sakit, termasuk laporan teknis resmi terkait penyebab kerusakan ACB panel listrik, riwayat perawatan sistem kelistrikan, evaluasi sistem proteksi petir, hingga rencana peningkatan sistem cadangan daya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Prabumulih Djoko Listiyono SKM MSi juga memberikan arahan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

“Kalau dari kami secara lisan sudah mengarahkan agar hal ini tidak terulang dengan adanya perawatan berkala pada instalasi listrik dan penambahan genset,” ujar Djoko.

Peristiwa ini dinilai menjadi momentum penting untuk evaluasi menyeluruh terhadap sistem manajemen dan infrastruktur RSUD Prabumulih.

Dalam dunia medis, listrik merupakan kebutuhan vital. Bahkan satu menit tanpa aliran listrik dapat berdampak serius terhadap keselamatan pasien.
Sebagai fasilitas kesehatan milik pemerintah daerah, RSUD Prabumulih memikul tanggung jawab besar untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang.

Kini masyarakat menunggu langkah konkret dari pihak terkait, mulai dari audit independen sistem kelistrikan, modernisasi genset dan UPS, transparansi hasil evaluasi, hingga penguatan manajemen risiko bencana di rumah sakit.

Sebab ketika listrik padam berjam-jam di rumah sakit, yang dipertaruhkan bukan sekadar pelayanan—melainkan nyawa manusia. (R)


Post a Comment

0 Comments