Begini Penjelasan Pihak MBG Sukajadi Terkait Pemberitaan Pemecatan Relawan MBG




PRABUMULIH,Vijaronline.com– Pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG Sukajadi memberikan penjelasan terkait pergantian relawan bernama Ade Irma yang sebelumnya diberitakan merasa diberhentikan secara sepihak. 

Hal ini diutarakan Saat selah mencuatnya berita tersebut di media sosial oleh salah satu media daring di Kota Prabumulih dengan Judul "Malang Nian Nasib ‘Relawan Dapur MBG Ade’, Kerja Kelewat Sampe Dirawat, Pasca Sehat Kena Pecat", pada Minggu (16/11/2025).

Pihak pengelola menyebutkan bahwa keputusan tersebut diambil murni karena alasan operasional dan pertimbangan kesehatan relawan yang bersangkutan.

Dijelaskan bahwa Ade Irma sebelumnya sempat tidak bekerja selama empat hari karena sakit. Ia baru masuk kembali selama satu hari, namun keesokan harinya kembali mengalami keluhan hingga akhirnya dirujuk ke RS Bunda dan dirawat selama empat hari.

Menurut informasi yang diterima pihak MBG, Ade Irma dinyatakan mengidap pembengkakan jantung, sehingga kondisi fisiknya dinilai belum memungkinkan untuk bekerja di dapur yang menuntut aktivitas intens dan mobilitas tinggi.

“Beliau kami suruh istirahat karena penyakitnya bukan penyakit ringan. Kami khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, mengingat pekerjaan di dapur MBG membutuhkan fisik yang benar-benar sehat,” ujar M. Arhab, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (Ka. SPPG) Sukajadi saat dimintai keterangan oleh awak media.

Arhab menegaskan bahwa pergantian posisi relawan dilakukan agar operasional dapur tetap berjalan lancar. Dalam kondisi volume kerja yang tinggi, setiap bagian membutuhkan tenaga yang sehat dan mampu bekerja penuh tanpa kendala kesehatan berkepanjangan.

“Kami harus memastikan semua relawan dalam kondisi fit, karena yang kami tangani adalah makanan siap saji untuk masyarakat. Kebersihan, keamanan pangan, dan kesehatan tenaga kerja adalah prioritas,” tambahnya.

Pihak MBG menyebut bahwa keputusan tersebut tidak didasari faktor pribadi, melainkan pertimbangan tanggung jawab terhadap penerima manfaat serta risiko kesehatan yang bisa timbul jika relawan dipaksakan bekerja dalam kondisi tidak stabil.

"Kami berharap publik memahami bahwa langkah yang diambil semata-mata untuk menjaga kelangsungan operasional dapur dan keselamatan relawan yang bersangkutan," tukasnya.(*)

Post a Comment

0 Comments